• Jasa Pengukuran Geolistrik

    Kami menyediakan jasa pengukuran Geolistrik untuk berbagai macam bidang oleh tenaga ahli handal yang telah berpengalaman.

  • Jasa Pemboran / Pengeboran

    Kami menyediakan jasa pemboran untuk berbagai macam keperluan baik untuk pemboran sumur dalam maupun geoteknik.

  • Jasa Pembuatan Peta

    Kami menyediakan jasa pembuatan berbagai macam peta seluruh Indonesia. Hasil dapat berupa raster maupun vector sesuai dengan pesanan.

  • Jasa Pemetaan Geologi

    Kami menyediakan jasa untuk melalkukan pemetaan geologi, baik untuk keperluan tambang, geoteknik maupun keperluan penelitian.

Peta Administrasi Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak

     Kecamatan Dempet merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Demak. Secara geografis, Kecamatan Dempet terletak diantara 110 41' 19" hingga 110 47' 11" Bujur Timur dan 6⁰ 54' 56" hingga 7 1' 8" Lintang Selatan. Secara administrasi, Kecamatan Dempet berbatasan langsung dengan Kecamatan Gajah di bagian Utara, Kabupaten Kudus dan Grobogan di bagian timur, Kecamatan Kebonagung di bagian selatan dan Kecamatan Wonosalam di bagian barat.
Gambar 1. Peta Administrasi Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak

    Kecamatan Dempet terdiri dari desa/kelurahan. Berikut adalah daftar desa/kelurahan Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak.
  1. Desa Balerejo
  2. Desa Baleromo
  3. Desa Botosengon
  4. Desa Brakas
  5. Desa Dempet
  6. Desa Gempodenok
  7. Desa Harjowinangun
  8. Desa Jerukgulung
  9. Desa Karangrejo
  10. Desa Kebonsari
  11. Desa Kedungori
  12. Desa Kramat
  13. Desa Kunir
  14. Desa Kuwu
  15. Desa Merak
  16. Desa Sidomulyo


Share:

Macam-Macam Fasies Metamorfisme

     Dari faktor-faktor yang menjadikan adanya proses metamorfisme ini, terdapat macam-macam fasies metamorfisme yang memiliki beberapa kelebihan dari salah satu atau beberapa faktor. Macam-macam metamorfisme antara lain (Gambar 1):
Gambar 1. Macam-macam Faises Metamorfisme (Eskola, 1915)

  1. Zeolite fasies adalah fasies metamorf dengan terendah grade metamorf. Pada suhu dan tekanan rendah proses dalam batu disebut diagenesis. The fasies ini dinamai zeolit, sangat terhidrasi tectosilicates.
  2. Prehnite-pumpellyite-fasies adalah sedikit lebih tinggi tekanan dan temperatur daripada fasies zeolit. Hal ini dinamai dari mineral prehnite (a Ca - Al - phyllosilicate) dan pumpellyite (a sorosilicate).
  3. Greenschist fasies menengah berada pada tekanan dan temperatur. The fasies ini dinamai khas schistose tekstur dari batu dan warna hijau mineral klorit, epidote dan actinolite.
  4. Amphibolite-fasies adalah fasies tekanan menengah dan rata-rata suhu tinggi. Hal ini dinamai amphiboles yang terbentuk dalam keadaan seperti itu.
  5. Granulite fasies adalah nilai tertinggi di metamorphism tekanan menengah. Kedalaman di mana hal ini terjadi tidak konstan. Karakteristik mineral fasies ini dan pyroxene-hornblende fasies adalah orthopyroxene.
  6. Blueschist fasies berada pada suhu relatif rendah, tetapi tekanan tinggi, seperti terjadi pada batuan di zona subduksi. The fasies ini dinamai menurut karakter schistose bebatuan dan mineral biru glaucophane dan lawsonite.
  7. Eclogite fasies adalah fasies pada tekanan tinggi dan suhu tinggi. Hal ini dinamai untuk metabasic batu eclogite.
  8. Albite-epidote-hornfels fasies adalah fasies pada tekanan rendah dan suhu relatif rendah. Ini adalah nama untuk kedua mineral albite dan epidote, meskipun mereka adalah lebih stabil dalam fasies. Hornfels adalah sebuah batu terbentuk di kontak metamorphism, sebuah proses yang khas melibatkan suhu tinggi tetapi tekanan rendah / kedalaman.
  9. Hornblende hornfels fasies adalah fasies dengan tekanan rendah yang sama tapi sedikit lebih tinggi suhu sebagai albite-epidote fasies. Walaupun dinamai mineral hornblende, munculnya mineral yang tidak dibatasi fasies ini.
  10. Pyroxen hornfels fasies adalah fasies metamorf kontak dengan suhu tertinggi dan adalah, seperti granulite fasies, dicirikan oleh mineral orthopyroxene.
  11. Sanidinite fasies adalah fasies langka yang sangat tinggi suhu dan tekanan rendah. Itu hanya bisa dicapai di bawah metamorf kontak tertentu-keadaan. Karena suhu tinggi pengalaman batu mencair parsial dan kaca terbentuk. Fasies ini diberi nama untuk mineral sanidine.
Davis, George H.1942.Strucural Geology of Rock and Regions. John Wiley & Sons,Inc.New York.

Share:

Faktor-faktor Pembentukan Fasies Metamorfisme

     Pembentukan batuan metamorf akan terjadi perubahan struktur dan tekstur batuan asal. Perubahan ini terjadi karena beberapa faktor yang juga dijadikan sebagai pedoman dalam menentukan fasies metamorfisme. Berikut adalah faktor-faktor pembentukan fasies metamorfisme.
Gambar 1. Fasies Metamorfisme

Temperatur Sepanjang Gradien Geothermal

Perubahan temperatur dapat terjadi karena berbagai macam sebab antara lain adanya pemanasan akibat intrusi magmatik dan perubahan gradien geothermal. Panas dalam skala kecil juga bisa terjadi akibat adanya gesekan/friksi selama terjadinya deformasi suatu massa batuan. Pada batuan silikat batas bawah terjadinya metamorfosa umumnya pada suhu 150 ± 50 C yang ditandai dengan munculnya mineral-mineral Mg-carpholite, Glaucophane, lawsonite, paragonite, prehnite atau stilpnomelane. Sedangkan batas atas terjadinya metamorfosa sebelum terjadinya pelelehan adalah berkisar 650 – 1100 C, tergantung jenis batuan asalnya (Bucher & Frey, 1994).

Tekanan

Tekanan didefinisikan sebagai gaya yang dihasilkan dari segala arah. Ada beberapa tipe stress diantaranya hydrostatic stress, atau uniform stress (stress sama dari segala arah) dan differential stress (stress tidak sama di setiap arah). Lembaran-Lembaran Silika akan tumbuh dengan lembaran-lembaran yang berorientasi perpendicular pada arah tegasan maksimum (maximum stress). Orientasi dari lembaran silika menyebabkan batuan dapat pecah sepanjang lembaran yang sejajar. Struktur seperti ini disebut foliasi. 

Aktifitas Fluida

Aktivitas kimiawi fluida dan gas yang berada pada jaringan antar butir batuan mempunyai peranan yang penting dalam metamorfosa. Fluida aktif dan gas yang banyak berperan adalah air beserta karbon dioksida, asam hidroklorik dan hidroflourik. Umumnya fluida dan gas tersebut bertindak sebagai katalis atau solven serta bersifat membantu reaksi kimia dan penyetimbangan mekanis (Huang, 1962).

Waktu

Reaksi kimia dalam metamorfisme, selama rekristalisasi dan pembentukan mineral-mineral baru berjalan sangat lambat. Melalui percobaan laboraturium dikatakan bahwa proses metamorfisme dengan waktu yang lebih lama, akan menghasilkan mineral-mineral berbutir besar. Dengan demikian batuan metamorf coarse grained telah melalui tahap metamorfisme yang lama. Eksperimen menyatakan bahwa waktunya dilibatkan adalah berjuta-juta tahun.
Share:

Bisnis Online

     Internet sudah menjadi makanan utama bagi manusia pada zaman sekarang ini. Aneh rasanya ketika seseorang tidak menggunakan bahkan tidak mengenal internet. Saat ini mulai berkembang bisnis-bisnis yang berbasis internet atau yang kita kenal dengan bisnis online.

     Bisnis online merupakan suatu platform bisnis berbasis internet yang dapat dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja selama memiliki jaringan internet. Bisnis online ini tidak membatasi pengguna dalam hal waktu dan ikatan (antara bos dan karyawan). Bisnis online sangat flexible untuk dilakukan sehingga menjadikannya sangat diminati oleh semua kalangan.

    Salah satu bisnis online adalah tentang survey online yang diadakan salah satu platform. Bisnis online tipe ini adalah bisnis yang membantu beberapa perusahaan dalam melakukan survey pasar yang dapat digunakan untuk membantu mengembangkan perusahaan tersebut, oleh karena itu disediakan platform untuk membantu perusahaan dengan imbalan tentunya.

    Toluna merupakan salah satu platform bisnis online yang berbasis survey konsumen yang saat ini sudah mulai berkembang. Perkembangan toluna ini sudah mencapai level dunia. Bahkan di Indonesia sendiri sudah mulai bekerja sama dengan beberapa perusahaan ternama.

     Toluna ini merekrut tanpa menggunakan batasan apapun baik umur maupun grade pendidikan, jadi semua kalangan dapat bergabung dengan Toluna. Ingin tahu lebih dalam? silahkan gabung langsung dengan kami di Toluna <Klik Di Sini>. Bagi anda yang ingin menanyakan cara kerja dari platform toluna ini dapat menghubungi kami melalui contact person di bawah ini.





Share:

Peta Administrasi Kecamatan Demak, Kabupaten Demak

     Kecamatan Demak merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Demak. Secara geografis, Kecamatan Demak terletak diantara 110 35' 22" hingga 110 43' 8" Bujur Timur dan 6 49' 8" hingga 6 55' 13" Lintang Selatan. Secara administrasi, Kecamatan Demak berbatasan langsung dengan Kecamatan Wedung dan Mijen di bagian utara, Kecamatan Karanganyar di bagian timur, Kecamatan Wonosalam di bagian selatan dan Kecamatan Bonang di bagian barat.
Gambar 1. Peta Administrasi Kecamatan Demak

     Kecamatan Demak, terdiri dari 19 desa/kelurahan. Berikut ini merupakan daftar desa/kelurahan di Kecamatan Demak, Kabupaten Demak
  1. Desa Bango
  2. Desa Betokan
  3. Desa Bintoro
  4. Desa Bolo
  5. Desa Cabean
  6. Desa Donorejo
  7. Desa Kadilangu
  8. Desa Kalicilik
  9. Desa Kalikondang
  10. Desa Karangmlati
  11. Desa Katonsari
  12. Desa Kedondong
  13. Desa Mangunjiwan
  14. Desa Mulyorejo
  15. Desa Raji
  16. Desa Sedo
  17. Desa Singorejo
  18. Desa Tempuran
  19. Desa Turirejo

Share:

Fasies Metamorfisme

     Facies metamorfisme merupakan suatu pengelompokkan mineral-mineral metamorfik berdasarkan tekanan dan temperatur dalam pembentukannya pada batuan metamorf. Batuan yang mengandung mineral tertentu dapat dihubungkan dengan pengaturan tektonik tertentu. Setiap facies pada batuan metamorf pada umumnya dinamakan berdasarkan jenis batuan (kumpulan mineral), kesamaan sifat-sifat fisik atau kimia.
Gambar 1. Pembentukan Metamorf

     Dalam proses pembentukan batuan metamorf, tekstur dan struktur batuan metamorf sangat dipengaruhi oleh tekanan dan temperatur saat proses berlangsung. Dan dalam facies metamorfisme, tekanan dan temperatur merupakan faktor dominan, dimana semakin tinggi derajat metamorfisme (facies berkembang), struktur akan semakin berfoliasi dan mineral-mineral metamorfik akan semakin tampak kasar dan besar.

Share:

Peta Administrasi Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah

     Kabupaten Boyolali merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis, Kabupaten Boyolali terletak diantara 110 22' 46" hingga 110 51' 31" Bujur Timur dan 7 8' 21" hingga 7 38' 6" Lintang Selatan. Secara administrasi, Kabupaten Boyolali berbatasan langsung dengan Kabupaten Grobogan di bagian utara, Kabupaten Sragen, Karanganyar dan Sukoharjo di bagian timur, Kabupaten Klaten di bagian selatan dan Kabupaten Magelang dan Semarang di bagian barat.
Gambar 1. Peta Administrasi Kabuoaten Boyolali

    Kabupaten Boyolali terdiri dari 19 kecamatan. Berikut merupakan daftar kecamatan yang ada di Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah
  1. Kecamatan Ampel
  2. Kecamatan Andong
  3. Kecamatan Banyudono
  4. Kecamatan Boyolali
  5. Kecamatan Cepogo
  6. Kecamatan Juwangi
  7. Kecamatan Karanggede
  8. Kecamatan Kemusu
  9. Kecamatan Klego
  10. Kecamatan Mojosongo
  11. Kecamatan Musuk
  12. Kecamatan Ngemplak
  13. Kecamatan Nogosari
  14. Kecamatan Sambi
  15. Kecamatan Sawit
  16. Kecamatan Selo
  17. Kecamatan Simo
  18. Kecamatan Teras
  19. Kecamatan Wonosegoro

Baca Juga
--> Wisata Alam Kabupaten Boyolali<--

Share:

Non-Foliasi

     Merupakan struktur batuan metamorf yang tidak menunjukkan adanya kenampakan struktur planar. Struktur ini terbentuk oleh mineral-mineral equidimentional dan umumnya terdiri dari butiran-butiran (granular). Struktur ini biasanya terbentuk oleh pemanasan global yang dapat disebabkan oleh dekatnya batuan dengan dapur magma atau terjadi gesekan lempeng sehingga menghasilkan panas yang sangat tinggi. Struktur Non-foliasi ini terbagi menjadi empat macam, yaitu
Gambar 1. Marmer (Marble)

Hornfelsic/granulose

Struktur hornfelsic terbentuk oleh mosaic mineral-mineral equidimensional dan equigranular dan umumnya berbentuk polygonal. Batuannya disebut hornfels (batu tanduk).

Cataclastic

Struktur ini terbentuk oleh pecahan/fragmen batuan atau mineral berukuran kasar dan umumnya membentuk kenampakan breksiasi. Struktur kataklastik ini terjadi akibat adanya metamorfosa kataklastik. Batuannya disebut cataclasite (kataklasit)

Milonitic

Struktur milonitic juga dihasilkan oleh adanya penggerusan mekanik pada metamorfosa kataklastik. Ciri struktur ini adalah mineralnya berbutir halus, menujukkan kenampakan goresan-goresan searah dan belum terjadi rekristalisasi mineral-mineral primer. Batuuannya disebut mylonite (milonit)

Phyllonitic

Struktur phyllonitic mempunyai gejala dan kenampakan yang sama dengan struktur milonitik tetapi umumnya telah terjadi rekristalisasi. Ciri lainnya adalah kenampakan kilap sutera pada batuan yang mempunyai struktur ini. Batuannya disebut phyllonite (filonit).
Share:

Foliasi

     Merupakan struktur batuan metamorf yang menunjukkan adanya kenampakan struktur planar pada tubuh batuan. Struktur ini terbentuk dengan adanya pembebanan (burden) dari lapisan diatasnya yang dapat menghasilkan tekanan yang sangat besar. Struktur foliasi umumnya terbentuk dari hasil penekanan terhadap batuan sedimen. Foliasi pada batuan metamorf, terbagi menjadi empat macam, yaitu

Slaty cleavage

Struktur foliasi ini umumnya ditemukan dalam batuan metamorf berbutir sangat halus (mikrokristalin) yang dicirikan oleh adanya bidang-bidang belah planar yang sangat rapat, teratur dan sejajar. Biasanya disebut slate (batu sabak).
Gambar 1. Singkapan Slaty Cleavage

Phylitic

Struktur ini hamper sama dengan struktur slaty cleavage tetapi terlihat rekristalisasi yang lebih kasar dan mulai terlihat pemisahan mineral pipih dengan mineral granular. Batuannya disebut phylitic (filit).
Gambar 2. Hand Specimen Phylitic

Schistosic

Struktur schistsic terbentuk oleh adanya susunan parallel mineral-mineral pipih, prismatic atau lentikular (umumnya mika atau klorit) yang berukuran butir sedang sampai kasar. Batuannya disebut schist (sekis)
Gambar 3. Hand Specimen Schist

Gneissic/Gneissose

Struktur Gneissic terbentuk oleh adanya perselingan lapisan penjajaran mineral yang mempunyai bentuk berbeda, umumnya antara mineral-mineral granuler (misalnya mineral ferromagnesium). Penjajaran mineral ini umumnya tidak menerus melainkan terputus-putus. Batuannya disebut gneiss.
Gambar 4. Hand Specimen Gneiss


Share:

Struktur Batuan Metamorf

     Struktur batuan metamorf adalah kenampakan batuan yang berdasarkan ukuran, bentuk atau orientasi unit poligranular batuan tersebut. Pembahasan mengenai struktur juga meliputi susunan bagian massa batuan termasuk hubungan geometrik antar bagian serta bentuk dan kenampakan internal bagian tersebut. Secara umum struktur batuan metamorf dibedakan menjadir struktur foliasi dan non-foliasi.
Gambar 1. Batuan Metamorf

Foliasi

     Merupakan struktur batuan metamorf yang menunjukkan adanya kenampakan struktur planar pada tubuh batuan. Struktur ini terbentuk dengan adanya pembebanan (burden) dari lapisan diatasnya yang dapat menghasilkan tekanan yang sangat besar. Struktur foliasi umumnya terbentuk dari hasil penekanan terhadap batuan sedimen.

Non-Foliasi

    Merupakan struktur batuan metamorf yang tidak menunjukkan adanya kenampakan struktur planar. Struktur ini terbentuk oleh mineral-mineral equidimentional dan umumnya terdiri dari butiran-butiran (granular). Struktur ini biasanya terbentuk oleh pemanasan global yang dapat disebabkan oleh dekatnya batuan dengan dapur magma atau terjadi gesekan lempeng sehingga menghasilkan panas yang sangat tinggi.


Share:

Peta Administrasi Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak

     Kecamatan Bonang merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Demak. Secara geografis, Kecamatan Bonang terletak diantara 110 31' 18" hingga 110 39' 55" Bujur Timur dan 6 47' 40" hingga 6 54' 42" Lintang Selatan. Secara administrasi, Kecamatan Bonang berbatasan langsung dengan Kecamatan Wedung di bagian utara, Kecamatan Demak di bagian timur, Kecamatan Karang Tengah di bagian selatan dan Laut Jawa di bagian barat.

Gambar 1. Peta Adiministrasi Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak

     Kecamatan Bonang terdiri dari desa/kelurahan. Berikut merupakan daftar desa/kelurahan di Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak:
  1. Desa Betahwalang
  2. Desa Bonangrejo
  3. Desa Gebang
  4. Desa Gebangarum
  5. Desa Jali
  6. Desa Jatimulyo
  7. Desa Jatirogo
  8. Desa Karangrejo
  9. Desa Kembangan
  10. Desa Krajanbogo
  11. Desa Margolinduk
  12. Desa Morodemak
  13. Desa Poncoharjo
  14. Desa Purworejo
  15. Desa Serangan
  16. Desa Sukodono
  17. Desa Sumberejo
  18. Desa Tlogoboyo
  19. Desa Tridonorejo
  20. Desa Weding
  21. Desa Wonosari

Share:

Proses Metamorfisme

     Batuan metamorf terbentuk karena adanya perubahan yang disebabkan oleh proses metamorfosa pada batuan sebelumnya baik batuan beku, batuan sedimen maupun batuan metamorf yang telah ada. Proses metamorfosa merupakan suatu proses isokimia yang tidak mengalami penambahan unsur-unsur kimia pada batuan yang mengalami metamorfosa. Proses yang terjadi adalah perubahan fisik baik dari struktur dan teksturnya serta proses perubahan susunan mineral tanpa melewati fase cair (Endarto, 2004).
Gambar 1. Proses Metamorfisme

     Dalam perubahannya, batuan akan melalui tiga tahap, yaitu:
  1. Rekristalisasi
    Pada tahap ini terjadi penyusunan mineral-mineral dari batuan yang telah ada dengan tidak merubah komposisi unsur kimianya. Perubahan ini terjadi pada ikatan kimia yang telah terbentuk.
  2. Reorientasi
    Pada tahap ini terjadi pengorientasian pada mineral-mineral yang terbentuk. Pada tahap ini juga mulai terbentuk struktur dan tekstur dari batuan metamorf.
  3. Pembentukan mineral baru
    Pada proses ini terjadi penyusunan kembali pada unsur-unsur kimia yang telah ada sehingga membentuk mineral-mineral baru.
     Adanya proses dan tahapan pembentukan batuan metamorf tersebut, menjadikan batuan metamorf memiliki beberapa kelas yang dikenal dengan fasies metamorfisme.

Share:

Batuan Metamorf

Gambar 1. Batuan Metamorf

     Batuan Metamorf merupakan batuan hasil malihan dari batuan yang telah ada sebelumnya (beku, sedimen atau metamorf). Hasil malihan ini ditunjukkan dengan adanya perubahan komposisi mineral, tekstur dan struktur batuan sebelumnya yang terjadi pada fase padat (solid rate). Perubahan tersebut terjadi akibat adanya perubahan temperatur, tekanan dan kondisi kimia di kerak bumi (Ehlers & Blat, 1982).

     Perubahan temperatur dapat terjadi oleh karena berbagai macam sebab, antara lain oleh adanya pemanasan akibat intrusi magmatik dan perubahan gradient geothermal. Panas dalam skala kecil juga bias terjadi akibat adanya gesekan/friksi selama terjadinya deformasi suatu massa batuan. Pada batuan silikat batas bawah terjadinya metamorfosa umumnya pada suhu 150 ± 50 C yang ditandai dengan munculnya mineral-mineral Mg-carpholite, Glaucophane, Iawsonite, Paragonite, Prehnite atau Stilpnomelane. Sedangkan batas atas terjadinya metamorfosa sebelum terjadinya pelelehan adalah berkisar 650 - 1100 C, tergantung jenis batuan asalnya.

     Aktifitas kimia fluida dan gas yang berada pada jaringan antar butir batuan yang mempunyai peranan yang penting dalam metamorfosa. Fluida aktif yang banyak berperan adalah air beserta karbon dioksida, asam hidrolik, dan hidroflourik. Umumnya fluida dan gas tersebut bertindak sebagai katalis atau solven serta bersifat membantu reaksi kimia dan penyetimbangan mekanis.

--> Proses Pembentukan Metamorf

--> Fasies Metamorfisme

--> Struktur Batuan Metamorf

--> Tekstur Batuan Metamorf

--> Tipe Metamorfisme

--> Klasifikasi Batuan Metamorf


Share:

Struktur Batuan Sedimen (Struktur Sedimen)

     Struktur batuan sedimen menyangkut kenampakan massa batuan dalam skala luas. Struktur batuan sedimen dapat terbentuk baik beriringan maupun setelah proses sedimentasi. Selain itu struktur batuan sedimen juga dapat terbentuk akibat proses kimia dan biologi yang menyebabkan berubahnya kenampakan batuan sedimen. Struktur batuan sedimen terbagi menjadi empat golongan utama, yaitu

1. Erosional Structure

Merupakan struktur pada batuan sedimen yang terbentuk sebelum proses pembatuan dan diendapkannya sedimen yang lebih muda. Contoh dari erosional structure adalah flute marks, groove marks, gutter cast, channel dan scours
Gambar 1. Flute Marks

2. Depositional Structure

Merupakan struktur pada batuan sedimen yang terbentuk karena proses sedimentasi. Depositional structure ini mampu merefleksikan mekanisme pengendapannya. Struktur sedimen ini sangat sering digunakan untuk analisis mengenai kondisi alam pada saat pembentukan sedimen tersebut. Contoh struktur ini adalah perlapisan, laminasi, ripple, cross stratificarion dan lain sebagainya.
Gambar 2. Laminasi

3. Post Depositional Structure

Merupakan struktur batuan sedimen yang terbentuk setelah material sedimen melewati proses sedimentasi, sebelum atau pada saat diagenesa. Struktur sedimen ini menunjukkan kejadian-kejadian yang timbul setelah sedimentasi. Contoh struktur ini adalah slide, slump, load cast dan convolute.
Gambar 3. Convolute

4. Biogenic Structure

Merupakan struktur sedimen yang terbentuk akibat adanya pengaruh luar dari organisme seperti molusca, cacing atau binatang lainnya. Contoh struktur ini adalah trace fosil.
Gambar 4. Trace Fossil

Share:

Halaman Konsultasi


     Kami menyediakan layanan konsultasi dan diskusi bagi anda yang ingin menanyakan perihal geologi dan ilmu terkait. Kami akan membantu anda untuk menyelesaikan masalah geologi dan ilmu trekait yang anda miliki.

Konsultasi ini tidak dipungut biaya apapun
(Kecuali anda mau ngasih hehe)

Jam Operasi

06.00 - 20.00 WIB
Konsultasi dapat dilakukan setiap hari (kecuali ketika pengembang ke lapangan)

Konsultasi dapat dilakukan melalui

Instragram : @neededthing
Whatsapp  : +6285210478686
Line @      : @qhw5021u

Share:

Tekstur Batuan Sedimen

     Tekstur batuan sedimen menjadi salah satu komponen yang harus diperhatikan dalam melakukan analisis terhadap batuan sedimen. Dengan menggunakan tekstur yang ada pada batuan sedimen, dapat diketahui proses pembentukan batuan sedimen dari mulai batuan asal hingga tempat pengendapan batuan sedeimen tersebut. Tekstru yang harus diperhaikan diantaranya adalah:

Derajat Kebundaran (Roundness)

     Derajat kebundaran (roundness) merupakan tingkat bundarnya butiran-butiran sedimen. Derajat kebundaran ini sangat erat hubungannya dengan proses dan jarak transport (Bogs, 1987). Semakin bundar butiran sedimen, menunjukkan baterial tersebut telah tertrasport cukup jauh.
Gambar 1. Derajat Kebundaran 

Sortasi

     Sortasi (pemilahan) merupakan keseragaman butiran yang ada di batuan sedimen. Semakin seragam butiran sedimen, menunjukkan sortasi semakin baik. Keseragaman ini menunjukkan kehadirannya perubahan energi transport. Semakin seragam butiran sedimen menunjukkan pada saat pengendapan sangat sedikit perubahan besar energi transport atau energi transport konstan.
Gambar 2. Sortasi

Kemas

     Kemas (fabric) merupakan hubungan antara masa dasar dan fragmen batuan sedimen. Kemas pada batuan sedimen terdapat dua macam, yaitu kemas terbuka dan tertutup. Kemas terbuka merupakan kemas yang ada pada batuan sedimen dimana fragmen dan masa dasarnya dapat dibedakan. Kemas tertutup merupakan kemas yang ada pada batuan sedimen dimana fragmen dan masa dasarnya tidak dapat dibedakan. Kemas ini umumnya sebanding dengan sortasi. Semakin baik sortasi maka kemas akan semakin dikatakan tertutup.

Ukuran Butir

     Dalam batuan sedimen yang menjadi tolak ukur utama dalam penamaan adalah ukuran butir. Hal tersebut dikemukakan oleh Wentworth (1922) dalam klasifikasinya yang dikenal sebagai Skala Wentworth (1922). Ukuran butir ini sangat berhubungan dengan energi pengendapannya. Semakin kecil ukuran butir menunjukkan bahwa sedimen tersebut terendapkan pada energi transport kecil seperti lempung yang terendapkan pada energi transport yang mendekati nilai 0 karena ukurannya sangat kecil.
Gambar 3. Skala Wentworth (1922)



Share:

Batuan Sedimen Non Klastik

    Batuan sedimen non klastik merupakan batuan sedimen yang terbentuk oleh proses kimiawi maupun organik. Batuan yang termasuk ke dalam kelompok sedimen non klastik adalah sedimen evaporit, sedimen karbonat, sedimen silika dan batuan organik.

Gambar 1. Batubara

1. Batuan Sedimen Evaporit

Merupakan batuan sedimen yang terbentuk sebagai hasil proses penguapan (evaporit) air laut. Proses penguapan air laut ini mengakibatkan tertinggalnya bahan kimia yang akhirnya akan menghablur ketika semua air laut teruapkan. Proses penguapan ini terjadi dengan adanya sinar matahari dalam waktu yang cukup lama.

2. Batuan Sedimen Karbonat

Merupakan batuan sedimen yang terbentuk dari hasil proses kimiawi dan biokimia. Kelompok batuan karbonat diantaranya adalah batugamping dan dolomit dengan mineral utama pembentuknya adalah kalsit dan dolomit.

3. Batuan Silika

Merupakan batuan sedimen yang tersusun atas mineral silika. Batuan ini meripakan hasil proses kimia dan biokimia dari organisme berkomposisi silika seperti diatom, radiolaria dan sponges.

4. Batuan Organik

Merupakan batuan yang berasal dari kumpulan material organik yang melalu diagenesa sehingga mengeras menjadi batu. Contoh yang paling sering dijumpai adalah batubara yang berasal dari tumbuhan.
Share:

Batuan Sedimen Klastik

     Batuan sedimen klastik merupakan batuan sedimen yang terbentuk akibat adanya proses pengendapan material sedimen. Material sedimen merupakan butiran yang berasal dari batuan sebelumnya baik batuan beku, metamorf maupun batuan sedimen yang mengalami erosi dan terbawa oleh media transport. (Penggolongan Batuan Sedimen)

Gambar 1. Singkapan Batuan Sedimen Klastik

     Setelah pengendapan, material sedimen tidak dapat disebut sebagai batuan sedimen tetapi dinamakan dengan endapan sedimen. Endapan sedimen akan mengalami diagenesa, yaitu proses-proses yang berlangsung pada temperatur rendah selama maupun setelah litifikasi (pembatuan). Endapan sedimen yang telah mengalami proses diagenesa inilah yang disebut dengan batuan sedimen. Diagenesa pada sedimen diantaranya adalah:
  1. Kompaksi Sedimen
    Merupakan proses pemampatan material sedimen satu dengan yang lain akibat adanya pembebanan material diatasnya. Pada proses ini volume sedimen akan berkurang dan hubungan antar butirnya semakin rapat.
  2. Sementasi
    Merupakan proses terisinya rongga-rongga pada sedimen dengan proses kimiawi. Pada sementasi ini material yang terbentuk merupakan material pengikat antar butir.
  3. Rekristalisasi
    Merupakan proses pengkristalan kembali suatu mineral dari suatu larutan yang berasal dari pelarutan material sedimen selama diagenesa atau sebelumnya.
  4. Autiqenesis
    Merupakan proses terbentuknya mineral batu di lingkungan diagenesa, sehingga adanya mineral tersebut merupakan partikel baru dalam suatu sedimen.
  5. Metasomatisme
    Merupakan proses pergantian material sedimen oleh berbagai material autigenik tanpa adanya pengurangan volume.
Share:

Penggolongan Batuan Sedimen (Sedimen Klastik dan Non Klastik)

     Batuan sedimen memiliki berbagai macam golongan. Penggolongan dilakukan dengan melihat dua faktor utama yaitu genetis dan deskriptif. Batuan sedimen sendiri memiliki dua golongan besar, yaitu Batuan Sedimen Klastik dan Batuan Sedimen Non Klastik.

Gambar 1. Singkapan Batuan Sedimen Klastik (perlapisan batulempung dan batupasir formasi kerek)

Batuan Sedimen Klastik

     Merupakan batuan sedimen yang terbentuk dari pengendapan kembali atau dari pecahan batuan asal. Batuan asal dapat berupa batuan beku, sedimen maupun metamorf. Batuan sedimen klastik ini diendapkan dengan proses mekanis dimana pengendapan terjadi setelah adanya erosi dari batuan asal kemudian terbawa oleh media transport hingga mengendap di tempat lain. Pada batuan sedimen klastik dalam proses pembatuan (litifikasi) akan mengalami proses diagenesa diantaranya adalah kompaksi sedimen, sementasi, rekristalisasi, autiqensis dan metasomatisme.

Gambar 2. Singkapan Batuan Sedimen Non Klastik (batugamping terumbu yang telah mengalami kristalisasi pada beberapa bagian)

Batuan Sedimen Non Klastik

     Merupakan batuan sedimen yang terbentuk akibat proses kimiawi yang dialami oleh batuan sebelumnya (batugamping kristalin) atau oleh material lalin yang kemudian mengalami pembatuan (gypsum). Berdasarkan proses kimia yang terjadi, batuan sedimen non klastik terbagi menjadi empat golongan, yaitu sedimen evaporit, sedimen karbonat, sedimen silika dan batuan organik.


Share:

Pengukuran Geolistrik Desa Kandangan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang

     Pengukuran Geolistrik yang dilakukan di Desa Kandangan bertujuan untuk mengetahui kondisi bawah permukaan sehingga dapat melakukan perhitungan cadangan daerah tersebut. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan kondigurasi schlumberger bentangan total 150 meter pada lahan dengan luas 4 Ha. Pengukuran dilakukan pada tiga titik didalam area.
Gambar 1. Singkapan Breksi Vulkanik Lapuk

     Berdasarkan hasil pengamatan geologi, lokasi pengukuran memiliki morfologi perbukitan bergelombang dengan sudut kemiringan 4 hingga 8. Lokasi pengukuran geolistrik memiliki dua satuan utama, yaitu tuf dan breksi vulkanik dimana tuf memiliki umur lebih muda daripada breksi vulkanik.
Gambar 2. Hasil Korelasi Pengukuran Geolistrik

     Pengukuran geolistrik memberikan gambaran mengenai litologi yang ada. Dari hasil pengukuran, diketahui bahwa lokasi pengukuran memiliki tiga satuan, yaitu tuf, breksi dalam kondisi lapuk dan breksi dalam kondisi segar yang tersebar di daerah pengukuran. Perbedaan dari breksi lapuk dan segar dapat diketahui dengan melihat nilai resistivitasnya. Breksi segar cenderung memiliki nilai resistivitas lebih tinggi. Berdasarkan analisis dan perhitungan, daerah pengukuran memiliki volume cadangan tuf 451.690 m³, breksi lapuk 37.125 m³ dan breksi segar 373.190 m³.
Gambar 3. Penampang 3 Dimensi

--> Jasa Pengukuran Geolistrik

--> Jasa Penyewaan Alat

--> Jasa Pembuatan Peta

Share:

Batuan Sedimen (Sedimentary Rocks)

     Batuan sedimen merupakan batuan yang terbentuk dari akumulasi meterial hasil perombakan batuan yang sudah ada sebelumnya atas hasil aktifitas kimia maupun organisme, yang diendapkan lapis demi lapis pada permukaan bumi kemudian mengalami pembatuan (litifikasi) (Danang, 2005). Material sedimen berasal dari batuan yang sudah ada dan mengalami pelapukan sehingga menyebabkan batuan tersebut mudah terkikis terbawa oleh media transport dan terendapkan ditempat yang berbeda. Media transport pada batuan sedimen terdiri dari air, angin, gravitasi dan salju (gletser).
Gambar 1. Singkapan Batuan Sedimen (Perlapisan Lempung-Pasir)
Umur Tersier, Formasi Tmpk (Kerek)


     Adanya media transport ini, mampu menggerakan material sedimen sehingga dapat berpindah tempat. Perpindahan tempat pada material sedimen yang dilakukan oleh media transport terdapat tiga cara, yaitu:
  • Suspended Load, merupakan pemindahan yang terjadi pada material sedimen yang berukuran kecil sehingga mampu diangkut oleh air atau angin dengan energi kecil dan pengendapan lebih didominasi dengan gaya gravitasi.
  • Bed Load, merupakan pemindahan yang terjadi pada material yang lebih besar hingga sangat besar. Energi transport yang di butuhkan juga cukup tinggi sehingga material sedimen akan mampu berhenti pada titik dimana energi sudah tidak mampu menggerakan material tersebut. Pemindahan ini terjadi dengan menggerakan material sedimen di dasar permukaan.
  • Saltation Load, merupakan pemindahan yang terjadi pada material dengan ukuran pasir. Energi transport yang dibutuhkan besar sehingga mampu membuat material sedimen berat melayang dan bergeser. Pemindahan ini terjadi dengan menggerakan dan menerbangkan material sedimen di dalam media transport.


Share:

Klasifikasi Piroklastik

     Pembentukan piroklastik terjadi karena berbagai macam faktor yang menyebabkan piroklastik memiliki berbagai macam jenis. Pengelompokkan dilakukan oleh beberapa ahli yang bertujuan untuk membedakan piroklastik satu dan yang lainnya.
Gambar 1. Singkapan Piroklastik

1. Grabau (1924)

    Grabau (1924) dalam Carozzi (1975) mengklasifikasikan piroklastik menjadi tiga jenis yang di bedakan berdasarkan ukuran butir. Klasifikasi tersebut terdiri dari:
  • Rudyte merupakan piroklastik dengan ukuran butir > 2,5 mm
  • Arenyte merupakan piroklastik dengan ukuran butir 0,5 - 2,5 mm
  • Lutyte merupakan piroklastik dengan ukuran butir < 0,5 mm

2. Wentworth dan Williams (1932)

    Kedua ahli ini dalam Pettijohn (1975) mengemukakan bahwa batuan piroklastik terbagi menjadi lima satuan yang dibagi berdasarkan ukuran butir dan bentuk butirnya.
  • Breksi Vulkanik merupakan satuan untuk piroklastik dengan ukuran >32 mm yang memiliki fragmen dengan bentuk runcing
  • Aglomerat merupakan satuan untuk piroklastik dengan ukuran > 32 mm yang memiliki fragmen dengan bentuk membundar
  • Lapilli/tuf lapilli merupakan satuan untuk piroklastik dengan ukuran antara 4 - 32 mm
  • Tuf kasar merupakan satuan untuk piroklastik dengan ukuran 0,25 - 4 mm
  • Tuf Halus merupakan satuan untuk piroklastik dengan ukuran <0,25 mm

3. Pettijohn (1975)

     Pettijohn (1975) dalam bukunya mengklasifikasikan tuf yang membandingkan komposisi gelasan terhadap kristal yang terbentuk pada batuan. Klasifikasi tersebut terdiri dari:
  • Vitric tuff merupakan tuf yang terdiri dari 75 - 100 % gelasan dan sisanya adalah kristal
  • Vitic crystal tuff merupakan tuf yang terdiri dari 50 - 75 % gelasan dan sisanya adalah kristal
  • Crystal vitric tuff merupakan tuf yang terdiri dari 25 - 50 5 gelasan dan sisanya adalah kristal
  • Crystal tuff merupakan tuf yang terdiri dari 0 - 25 % gelasan dan sisanya kristal

Share:

Tipe-tipe Piroklastik

     Piroklastik merupakan endapan vulkanik klastik yang tersusun atas partikel (piroklas) terbentuk oleh erupsi guungapi yang eksplosif dan terendapkan oleh proses vulkanik primer (Mc Phie et al, 1993). Pengendapan vulkanik primer terbagi menjadi tiga, yaitu
Gambar 1. Pengendapan Piroklastik

1. Piroklastik Aliran

     Merupakan aliran panas dengan konsentrasi tinggi, dekat dengan permukaan, mudah bergerak, berupa gas dan partiker terdispersi yang dihasilkan oleh erupsi gunungapi (Wright et al, 1981 dalam Mc Phie et al, 1993). Piroklastik aliran bergerak di sepanjang permukaan bumi menuju ke tempat pengendapannya. Jenis endapan piroklastik aliran akan cenderung menempati cekungan-cekungan yang ada di sekitarnya. Sifat cair dari magma menjadikannya mengendap menyesuaikan wadah atau cekungannya.

2. Piroklastik Jatuhan

    Merupakan piroklas yang terlontar akibat eksplosif gunungapi dan tersuspensi, yang selanjutnya jatuh dan mengendap di permukaan bumi. Pergerakan dari piroklastik jatuhan ini sangat dipengaruhi oleh angin. Ukuran dari piroklastik jatuhan ini relatif kecil sehingga jangkauannya lebih luas daripada piroklastik aliran. Piroklastik jatuhan akan cenderung mengisi semua permukaan baik punggungan bukit maupun lembah dan memiliki keseragaman butir.

3. Piroklastik Surge

     Merupakan piklas yang memiliki rasio gas rendah (ground huggling), aliran partikel diangkut secara lateral didalam gas turbulen (Fisher, 1973 dalam Mc Phie et al, 1993). Piroklastik surge dibentuk secara langsung oleh erupsi freatomagmatik maupun freatik dan asosiasinya dengan piroklastik aliran.

Share:

Jenis-jenis Batuan Beku Fragmental (Piroklastik)

     Batuan beku fragmental terdiri memiliki komposisi bermacam-macam bergantung pada lokasi pembekuan, proses pembekuan dan faktor eksternal yang berpengaruh. Berikut adalah jenis-jenis batuan beku fragmental:
Gambar 1. Singkapan Breksi Autoklastik

Material Piroklastik

     Merupakan material yang terbentuk akibat proses erupsi gunungapi tanpa memandang penyebab erupsi dan adal materialnya. Fisher (1984) menyatakan bahwa material piroklastik merupakan material "seketika" yang terbentuk secara langsung oleh proses erupsi gunungapi dan memiliki sifat fragmental.

Material Hidroklastik

    Merupakan material yang dihasilkan oleh pertemuan antara magma dan air secara langsung. Berdasarkan transportasinya, hidroklastik dibedakan menjadi dua macam, yaitu
  1. Endapan Hidroklastik Jatuhan
    Terjadi pada material yang terlontar akibat erupsi gunungapi dan terjatuh pada tempat pengendapannya.
  2. Endapan Hidroklastik Aliran
    Terjadi pada material yang keluar dari pusat erupsi menuju tempat pengendapannya dengan cara bergerak sepanjang permukaan bumi.

Material Autoklastik

     Merupakan material yang terbentuk akibat proses erupsi gunungapi dimana pada proses pembekuannya memiliki bagian yang membeku terlebih dahulu dan masuk kedalam magma cair sehingga menjadikan batuan yang membeku sebagai fragmen. Fragmen dapat terbentuk akibat adanya gas yang tinggi sehingga melontarkan beberapa material hingga jatuh ke magma cair atau dalam perjalanannya permukaan magma cair membeku dan turun masuk ke dalam magma yang masih cair. Hasil dari proses tersebut sering disebut sebagai breksi autoklastik

Material Aloklastik

     Merupakan material yang terbentuk akibat proses erupsi dimana dalam perjalanan magmanya menggerus batuan samping sehingga menjadi xenolith pada magma yang akan membeku. Xenolith tersebut biasanya memiliki struktur, tekstur atau komposisi yang berbeda dari magma yang akan membeku. Hasil dari proses tersebut sering disebut sebagai breksi aloklastik

Material Epiklastik

     Merupakan material vulkanik yang telah bercampur dengan material non-vulkanik dengan ukuran yang sangat beragam membentuk aliran lumpur pekat (Fisher, 1984). Hasil dari proses tersebut sering disebut sebagai breksi laharik.

Share:

Endapan Piroklastik

     Endapan Piroklastik atau batuan beku fragmental merupakan endapan vulkaniklastik primer yang tersusun oleh partikel (piroklas) terbentuk oleh erupsi yang eksplosif dan terendapkan oleh proses vulkanik primer (aliran, jatuhan dan surge). Terdapat tiga tipe pada proses erupsi eksplosif yang terlibat dalam pembentukan endapan piroklastik, diantaranya adalah letusan magmatik, erupsi freatik dan erupsi freatomagmatik. Ketiga tipe ini mampu menghasilkan piroklas yang melimpah dari mulai abu halus (<1/16 mm) hingga blok dengan diameter beberapa meter.
Gambar 1. Letusan Gunungapi

--> Jenis-jenis Material Piroklastik

Piroklastik memiliki berbagai macam jenis. Jenis-jenis material piroklastik bergantung di mana magma membeku dan faktor eksternal yang bekerja.

--> Tipe-tipe Piroklastik

Terdapat 3 tipe utama pada piroklastik, yaitu jatuhan, aliran dan surge

--> Klasifikasi Piroklastik

Endapan piroklastik memiliki hasil pengendapan yang berbeda-beda baik dari ukuran maupun komposisinya.


Share:

Batuan Beku Berdasarkan Kehadiran Fragmen

     Batuan beku tidak selamanya hanya memiliki tubuh yang seragam. Adakalanya batuan beku memiliki beberapa fragmen yang hadir. Fragmen batuan beku dapat berasal dari magma yang sama ataupun dari benda lain yang dilewati magma sehingga terbawa pada saat pembekuan. Dalam hal ini, batuan beku dibagi menjadi dua, yaitu batuan beku non fragmental dan batuan beku fragmental.

Batuan beku non fragmental

Gambar 1. Batuan beku non fragmental dalam bentuk Kekar Kolom (Kabupaten Wonogiri)

    Merupakan batuan beku yang terbentuk tanpa adanya fragmen sehingga dalam satu tubuh batuan tersebut tetap memiliki komposisi mineral yang seragam. Pada dasarnya merupakan batuan beku yang membeku dibawah permukaan bumi dan memiliki waktu pembekuan cukup lama. Batuan beku non fragmental ini banyak dijumpai pada batuan beku plutonik dan hypabisal.

Batuan beku fragmental

Gambar 2. Batuan beku fragmental dalam bentuk Breksi Autoklastik (Gunung Merapi, Boyolali)

     Merupakan batuan beku yang memiliki fragmen. Batuan beku fragmental juga sering disebut sebagai Piroklastik. Batuan beku fragmental ini sering terbentuk diatas permukaan bumi. Batuan beku fragmental juga dapat terbentuk di bawah permukaan bumi jika magma yang membeku melelehkan sebagian batuan samping sehingga menjadikannya fragmen pada batuan beku itu sendiri.


Share:

Clinic Bimbel

Popular Posts

Blog Archive

Followers