• Jasa Pengukuran Geolistrik

    Kami menyediakan jasa pengukuran Geolistrik untuk berbagai macam bidang oleh tenaga ahli handal yang telah berpengalaman.

  • Jasa Pemboran / Pengeboran

    Kami menyediakan jasa pemboran untuk berbagai macam keperluan baik untuk pemboran sumur dalam maupun geoteknik.

  • Jasa Pembuatan Peta

    Kami menyediakan jasa pembuatan berbagai macam peta seluruh Indonesia. Hasil dapat berupa raster maupun vector sesuai dengan pesanan.

  • Jasa Pemetaan Geologi

    Kami menyediakan jasa untuk melalkukan pemetaan geologi, baik untuk keperluan tambang, geoteknik maupun keperluan penelitian.

Pengawetan Bagian Lunak Dari Organisme

     Proses pengawetan bagian lunak merupakan pengawetan yang paling jarang ditemui. Pengawetan jenis ini memerlukan kondisi sangat khusus. Umumnya bagian lunak organisme akan mudah mengalami pembusukan, itulah mengapa sangat jarang sekali ditemukan pengawetan jenis ini. Organisme harus terkubur pada media tertentu yang dapat menghalanginya mengalami pembusukan seperti getah. Getah dapat menghalangi bakteri-bakteri yang akan menghancurkan bagian lunak organisme sehingga organisme akan tetap bertahan.

Gambar 1. Fosil laba-laba dalam getah
Share:

Metamorfisme Lokal

     Metamorfisme lokal merupakan metamorfisme yang terjadi pada daerah yang sempit hanya berkisar beberapa meter hingga kilometer saja. Metamorfisme lokal ini terbagi menjadi enam jenis, diantaranya adalah
Gambar 1. Jenis-jenis dan Letak Metamorfosa

Metamorfisme Kontak

     Merupakan metamorfisme pada batuan yang mengalami kontak dengan batuan beku intrusif maupun ekstrusif. Perubahan tersebut terjadi karena adanya pemanasan dari magma. Proses yang terjadi pada metamorfisme ini adalah rekristalisasi, reaksi antar mineral, reaksi antar mineral dan fluida sebagai pengganti atau penambah material. Batuan pada metamorfosa ini biasanya memiliki butiran yang relatif halus.

Pirometamorfisme/Metamorfisme Thermal

    Merupakan metamorfisme merupakan jenis khusus dari metamorfisme lokal, dimana batuan pada metamorfisme ini mengalami kontak langsung dengan magma dan meninggalkan efek hasil temperatur yang sangat tinggi pada kondisi vulkanik atau quasi vulkanik. Contoh pada Xenolith atau Zendike.

Metamorfisme Kataklastik

     Merupakan metamorfisme pada zona yang mengalami deformasi intensif, seperti patahan. Proses yang terjadi pada metamorfisme ini murni karena adanya gaya mekanis yang mengakibatkan adanya penggerusan dan sranulasi batuan. Batuan yang dihasilkan pada metamorfisme ini berupa batuan non foliasi, seperti breccia fault gauge atau milonit.

Metamorfisme Hidrothermal

     Merupakan metamorfisme pada batuan yang mengalami perubahan karena adanya perkolasi fluida atau gas panas pada jaringan antar butir atau pada retakan-retakan batuan. Proses yang terjadi pada metamorfisme ini adalah perubahan komposisi mineral dan kimia batua mineral yang dipengaruhi oleh confining pressure.

Metamorfisme Impact

     Merupakan metamorfisme yang terjadi akibat adanya tabrakan hypervelocity sebuah meteorit. Kisaran waktu pembentukannya hanya beberapa mikrodetik dan umumnya ditandai dengan terbentuknya costie dan stishovite.

Metamorfisme Retrogade/Diaropetris

     Merupakan metamorfisme yang terjadi akibat adanya penurunan temperatur sehingga kumpulan mineral metamorfisme tingkat tinggi berubah menjadi kumpulan mineral stabil pada temperatur yang lebih rendah.

Bucher, Kurt dan Frey, Martin. 2000. Petrogenesis of Metamorphic Rocks. German: Springer, Berlin, Heidelberg.


Share:

Metamorfisme Regional

     Metamorfosa Regional atau dinamothermal merupakan metamorfosa yang terjadi pada daerah sangat luas. Metamorfosa ini dibedakan menjadi tiga, yaitu metamorfosa orogenik, burial dan dasar samudera (ocean-floor).
Gambar 1. Metamorfisme Regional

Metamorfisme Orogenik

    Merupakan metamorfosa yang terjadipada sabuk orogenik dimana proses deformasi yang menjadi penyebab utama rekristalisasi. Umumnya, batuan metamorf yang mengalami kejadian ini memiliki butiran mineral yang terorientasi dan membentuk sabuk yang melampar dari ratusan sampe ribuan kilometer.

Metamorfisme Burial

     Merupakan metamorfosa yang terjadi pada batuan akibat kenaikan tekanan dan temperatur dengan dominasi tekanan pada lapisan yang berasal dari hasil sedimentasi intensif kemudian mengalami deformasi berupa lipatan. Proses yang terjadi pada metamorfisme ini adalah reaksi antar kimia dan fluida yang masih tertinggal pada proses sedimentasi.

Metamorfisme Dasar Samudera

     Merupakan metamorfisme yang terjadi pada sekitar punggung tengah samudra (mid oceanic ridge). Batuan metamorf yang dihasilkan umumnya memiliki komposisi basa hingga ultra basa. Metamorfisme ini terjadi karena adanya pemanasan air laut menyebabkan mudah terjadinya reaksi kimia antara batuan dan air laut tersebut.

Bucher, Kurt dan Frey, Martin. 2000. Petrogenesis of Metamorphic Rocks. German: Springer, Berlin, Heidelberg.

Share:

Peta Administrasi Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak

     Kecamatan Karangawen merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Demak. Secara geografis, Kecamatan Karangawen terletak diantara 110 30' 36" hingga 110 37' 10" Bujur Timur dan 7 0' 24" hingga 7 8' 23" Lintang Selatan. Secara administrasi, Kecamatan Karanganyar berbatasan langsung dengan Kecamatan Guntur di bagian utara, Kabupaten Grobogan di bagian timue, Kabupaten Semarang di bagian selatan dan Kecamatan Mranggen di bagian barat.
Gambar 1. Peta Administrasi Kecamatan Karangawen

     Kecamatan Karangawen terdiri dari 12 desa/kelurahan. Berikut merupakan daftar desa yang ada di Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak.
  1. Desa Brambang
  2. Desa Bumirejo
  3. Desa Jragung
  4. Desa Karangawen
  5. Desa Kuripan
  6. Desa Margohayu
  7. Desa Pundenarum
  8. Desa Rejosari
  9. Desa Sido Rejo
  10. Desa Teluk
  11. Desa Tlogorejo
  12. Desa Wonosekar
--> Jasa Pembuatan Peta

Share:

Jenis-jenis Pengawetan Fosil

     Fosil dapat terbentuk dan bertahan hingga ditemukan karena telah terjadi pengawetan secara alami pada tubuh fosil tersebut. Pengawetan yang terjadi pada setiap fosil memiliki jenis yang berbeda diantaranya adalah
Gambar 1. Fosil Ikan

  1. Pengawetan bagian lunak organisme
  2. Pengawetan bagian keras organisme
  3. Pengawetan organisme yang mengalami perubahan
  4. Pengawetan jejak, tapak dan sisa organisme
     Pengawetan tersebut terjadi pada organisme yang berbeda-beda bergantung pada kondisi tubuh dan wilayah organisme mati sebelum menjadi fosil.

Endarto, Danang. 2005. Pengantar Geologi Dasar. Surakarta: Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) UNS dan UPT Penerbitan Percetakan UNS (UNS Pers)
Share:

Fosil dan Persyaratan Menjadi Fosil

     Fosil berasal dari bahasa latin "fossa" yang berarti sisa-sisa atau bekas-bekas makhluk hidup. Fosil dapat terbentuk karena penutupan langsung oleh material sedimen pada makhluk hidup yang belum sempat mengalami pembusukan. Dalam pembentukannya, makhluk hidup yang mungkin menjadi fosil memiliki beberapa syarat diantaranya adalah
Gambar 1. Fosil Trilobita
  • Organisme harus memiliki bagian yang keras, seperti cangkang, tulang, gigi atau jaringan kayu
  • Organisme harus terhindar dari kehancuran setelah mati (membusuk dan terutai)
  • Organisme harus segera terkubur oleh material sedimen yang dapat menahan kehancuran/pembusukan makhluk hidup
  • Organisme harus terawetkan secara alamiah bukan buatan manusia.
     Dari semua persyaratan tersebut tidak semuanya mutlak harus ada pada fosil. bagian keras misalnya, tidak semua fosil memiliki bagian keras seperti ubur-ubur juga dapat menjadi fosil hal tersebut terjadi karena ubur-ubur berada pada kondisi yang mampu menghambat kehancuran dan tersedimentasi sehingga mampu menjadi fosil.

     Salah satu fungsi fosil adalah untuk mengetahui umur relatif batuan dengan menggunakan fosil index. Fosil index merupakan fosil yang baik untuk digunakan sebagai penciri peristiwa geologi tertentu. Tidak semua fosil yang terbentuk dapat menjadi fosil index karena fosil index memiliki persyaratan khusus diantaranya adalah
  • mudah dinekal
  • berjumlah banyak
  • penyebaran gegrafis yang luas
  • kisaran hidup pendek.
Erickson, Jon. 2000. An Introduction to Fossil and Minerals Seeking Clues to the Earth's Past Revisied Third. New York: Fact on File, Inc
Share:

Paleontologi


     Paleontologi terdiri dari tiga suku kata yang berasal dari bahasa latin, yaitu Paleo yang berarti tua, Ontos yang berarti kehidupan dan logos yang berarti ilmu. Secara harfiah, Paleontologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari kehidupan masa lampau. Kehidupan yang dipelajari dalam paleontologi merupakan kehidupan yang pernah ada sebelum saat ini. Dalam upaya mengetahui kondisi masa lampau, perlu adanya media yang dapat menghantarkan peneliti, yaitu fosil atau dalam bahasa latin "fossa" yang berarti sisa-sisa atau bekas-bekas makhluk hidup yang membatu.

--> Syarat-syarat Menjadi Fosil dan Fosil Indeks

--> Jenis-jenis Pengawetan

-->Tata Cara Penamaan Fosil


Share:

Collection Shopee

Popular Posts

Arsip Blog

Pengikut